16 Perempuan Indonesia Terlibat Terorisme di Syuriah

Siti Darajatul Aliah

Jambi, Kabarserasan.com — Siti Darajatul Aliah dari Yayasan Prasasti Persamaian Jakarta, menyesalkan masih adanya kaum perempuan terlibat dengan aksi radikalisme dan terorisme.

Pasalnya, banyak perempuan Indonesia pergi ke Syuriah akibat pengaruh radikalisme dan terorisme dari medsos.

Menurutnya, seharusnya kaum perempuan belajar dengan RA Kartini, pahlawan perempuan Indonesia. “Kartini itu berjuang mengangkat emansipasi wanita, bukannya menjadi aktor bunuh diri.”

Karena itu, katanya, perempuan jangan mudah terpengaruh dengan berita-berita yang tidak baik dan belum tentu kebenarannya.

“Apalagi ada banyak kasus, perempuan yang nekat pergi ke Syuriah untuk berjihad untuk menjadi muslim yang baik,” ujar Siti, kemarin di Jambi.

Padahal, sambungnya, mereka adalah korban dari berita dari media sosial yang salah. “Jiwa mereka kosong dan labil, sehingga mencari guru di medsos yang akun-akunnya penuh pengaruh radikal dan sesat.”

“Kemudian dengan mudahnya, mereka terinspirasi dan termotivasi. Sesungguhnya kaum perempuan itu menjadi korban untuk dijadikan “pengantin” oleh orang tidak bertanggungjawab,” tegas Siti.

Dari beberapa perempuan yang sudah kembali dari Syuriah yang pernah ditemuinya, mengatakan, apa yang terjadi di Syuriah tidak sama dengan informasi yang di dapat dari medsos.

“Mereka ke Syuriah yang katanya berjihad itu, kebanyakan tidak tahu kondisi sebenarnya di sana. Mereka otaknya sudah tercuci, sehingga menjadi semangat. Parahnya, mereka lupa dengan orang tua dan keluargannya,” tuturnya.

Diakuinya, data yang diperoleh dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Indonesia ada sekitar 500 orang warga negara Indonesia yang berada di Syuriah.

“Yang sudah keluar dari Syuriah tercatat 80 orang dan 20 persen (16 orang) diantaranya adalah kaum perempuan,” terang Siti.

Perempuan-perempuan ini, merupakan yang sudah singel (sendirian). “Maksudnya, perempuan yang sudah bercerai lalu pergi sendiri ke Syuriah dan tidak ada pergi dengan pasangannya,” imbuhnya.

Siti berharap, Kartini-kartini atau perempuan-perempuan Indonesia tidak ada lagi pergi berjihad ke Syuriah. ” Gunakan medsos dengan benar. Cari guru yang ilmunya diakui kebenarannya tidak menyimpang dari ajaran agama,” pungkas Siti.

Penulis: Azhari
Editor: Amr

Baca Juga: Peran Perempuan Bisa Cegah Terorisme dan Radikalisme

Leave a Reply