Diduga Terlibat Faham Radikalisme, Dua Keluarga Asal Jambi Pergi ke Syuriah

Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi Lukman Jafri

Jambi, Kabarserasan.com — Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Provinsi Jambi Lukman Jafri mengakui ada dua keluarga asal Provinsi Jambi yang pernah berangkat ke Syuriah.

“Ada dua keluarga dan semuanya warga Sabak, Kabupaten Tanjungjabung Timur, Jambi. Mereka ini ada berangkat ke Syuriah pada akhir tahun lalu,” ungkapnya saat berbincang di lobi salah satu hotel dibilangan Kampung Manggis, Pasar, Kota Jambi, Jumat (21/4/2017).

Namun, Lukman mengelak memberikan identitas kedua keluarga tersebut. “Tanya saja kepada pihak Polda Jambi, lengkap semua datanya.”

Dia hanya memberikan keterangan singkat, bahwa kedua keluarga tersebut, berangkat ke Syuriah melalui Pulau Kalimantan. “Kayak kejadian Gafatar dulu itu. Berarti apa? Analisa sendiri lah,” tutur Lukman yang masih mencoba menutupi informasi tersebut.

Mantan Irwasda Polda Jambi ini juga mengakui, bahwa kedua keluarga asal Sabak, Tanjungjabung Timur itu terkena faham radikalisme yang di dapat dari akun-akun media sosial yang jauh dari kebenaran dan kenyataannya.

Sementara, Siti Darajatul Aliah dari Yayasan Prasasti Persamaian Jakarta mengaminkan informasi tersebut.

Menurutnya, saat ini kedua keluarga asal Jambi tersebut sudah dikembalikan ke daerah asalnya melalaui Depsos Jambi.

Hanya saja, sewaktu dapat kesempatan menggali informasi lebih jauh, tidak cukup waktu dan kedua keluarga tidak banyak memberikan keterangan.

“Karena masih belum terlibat, keduanya dipulangkan. Kecuali sudah terlibat jauh ke Syuriah,” katanya.

Kedua keluarga tersebut, ketahuan petugas di Turki saat akan menuju Syuriah. “Kejadiannya pada akhir tahun lalu,” ujar Siti.

Dari keterangan yang didapat, mereka nekat berangkat lantaran terpengaruh faham radikalisme dari akun yang beredar di media sosial.

“Hati-hati dengan medsos, karena susah dibendung. Medsos itu tidak ada wasitnya. Jadi pengguna medsos harus bisa memfilter setiap informasi yang didapat. Ada manfaatnya tidak?” imbuh Siti.

Siti juga mengungkapkan, apa yang ada di medsos merupakan tulisan propaganda dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab

“Ini diketahui dari mereka yang sudah pulang dari Syuriah. Kenyataannya berbeda jauh. Jadi baiknya, di Indonesia saja membantu pemerintah membangun negeri,” tuturnya.

Penulis: Azhari
Editor: Amr

Baca Juga: 16 Perempuan Indonesia Terlibat Terorisme di Syuriah

Leave a Reply