Kloter Pertama Pemulangan Eks Gafatar Tiba Di Surabaya

Semula pemberangkatan gelombang pertama akan dilakukan dengan tiga pesawat, mengangkut sebanyak 500 hingga 600 Orang, semuanya dari Jawa Timur. Tapi skenario itu kemudian berubah, salah satunya karena alasan pendataan yang belum selesai.

“Tidak ada penerbangan ke tiga. Sisanya masih menunggu pendataan lagi. Kemungkinan akan naik kapal. Kapan waktunya, belum tahu. Nanti dikabari lagi,” Saifullah menjelaskan kepada wartawan.

Kedatangan rombongan eks Gafatar di Bandara Juanda ini, langsung dijemput 12 Bus dengan pengawalan anggota kepolisian bersenjata, untuk selanjutnya dibawa ke tempat transit milik Pemprov Jatim di kawasan Margerejo, Surabaya.

Di tempat transit itu mereka sarapan pagi dulu, untuk selanjutnya menjalani pemeriksaan kesehatan di empat  tenda milik TNI AD, oleh tim medis yang disiapkan pihak Pemprov Jatim. Sebagian dan eks anggota Gafatar ini, terutama anak-anak, memang mengeluhkan sakit badan panas, batuk pilek dan diare.

“Kalau ibu-ibu rata-rata mengeluh pusing, itu biasa karena kelalahan. Tensinya turun, ada yang sampai 200 mungkin karena kelelahan, stres,” kata dr Ira, salah seorang tim medis dari RSJ Menur Surabaya.

Selain berobat, warga lainnya yang berasal dari 18 Kabupaten/Kota di Jawa Timur ini mengisi waktu untuk beristirahat. Jadwal selanjutnya, mereka akan menjalani pendataan lagi dari tim dinas kependudukan Pemprov Jatim.

Saifullah mengatakan, pemerintah akan menangani ratusan eks anggota Gafatar dengan baik, termasuk menyangkut kesehatannya. Di tempat transit itu, nantinya akan dilakukan pendataan dan pembinaan serta bimbingan konseling kepada para rombongan eks Gafatar yang sebagian besar rela meninggalkan kampung halaman dan hijrah ke Kalbar itu karena merasa menjadi korban.

“Mereka itu korban, penggerak atau perekrut tentu akan dicari pihak kepolisian, Jadi kami minta warga tidak menyalahkan sepihak eks Gafatar yang kembali ini” kata Saifullah menjelaskan.

Para anggota eks Gafatar ini, akan menempati tempat transit paling lama tiga hari. Setelah itu, mereka akan diantar ke daerah asalnya masing-masing dengan pengamanan kepolisian sebagai jaminan tidak ada gangguan selama perjalanan.

Rombongan eks gafatar gelombang pertama ini dari 18 Kabupaten/kota di Jatim paling banyak warga Kota Surabaya dan Pasuruan. Setelah diantar ke daerah asal, selanjutnya mereka menjadi tanggung jawab pemerintah daerah setempat yang menangani. (Junel) 

 

 

 

Leave a Reply