PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 Akan Segera Dibangun

Dirut PTBA Arviyan Arifin dan Direktur Pengadaan II PT PLN Supangkat Iwan Santoso saat penandatangan amandemen PPA, Kamis (19/10/2017) di Jakarta

Jakarta, Kabarserasan.com—Setelah sempat terkatung-katung hingga hampir lima tahun, akhirnya pengerjaan proyek PLTU Mulut Tambang Sumsel 8, ada kejelasan dan akan segera dilakukan.

Bertempat di kantor PT PLN (Persero) di Jakarta, Kamis (19/10/2017) siang, PT Bukit Asam (Persero) Tbk melalui anak usahanya PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP) menandatangani amandemen Power Purchase Agreement (PPA) PLTU ini dengan PT PLN (Persero).

Penandatangan dilakukan Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin dan Direktur Pengadaan Strategis II PT PLN, Supangkat,Iwan Santoso, mewakili Dirut PLN yang saat sama berhalangan hadir karena sedang berada di luar kota.

PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 merupakan bagian dari megaproyek 35.000 MW dari pemerintah. Dengan kapasitas 2×620 MW, PLTU ini akan menjadi yang terbesar di Sumatera bahkan di Indonesia. Namun dalam amandemen PPA yang ditandatangani ini, ada beberapa perubahan dari rencana awal.

Listrik dari PLTU Sumsel 8 yang semula akan dialirkan ke Jawa menggunakan hight voltage direct current (HVDC), diubah hanya dialirkan untuk kebutuhan listrik di Sumatera, menggunakan jalur transmisi extra high voltage 500 KV.

“Salah satu pertimbangannya, karena kebutuhan listrik di Pulau Jawa sudah mencukupi, sehingga listrik dari PLTU Sumsel 8 nantinya hanya untuk kebutuhan di Sumatera, di mana beberapa daerahnya masih mengalami defisit listrik Pertimbangan lain, memperhitungkan efisiensi,” jelas Arviyan.

“Soal efisiensi, itu sejalan dengan keinginan pemerintah, bahwa membangun PLTU di lokasi di mana sumbernya, seperti halnya juga membangun pembangkit listrik tenaga gas, sebaiknya di wilayah di mana terdapat potensi gas,” kata Arviyan dalam penjelasannya kepada media di Jakarta, usai penandatanganan tersebut.

Perubahan tersebut, lanjut Arviyan, membuat teknologi mutahir yang digunakan dalam pembangunan ke dua PLTU juga berubah, yang semula sub critical, berubah menjadi super critical yang lebih efisien dan ramah Iingkungan. Karena itu, harga jual listrik ke PLN juga berkurang dari kontrak PPA sebelumnya.

“Harga jual listrik ke PLN kita turunkan yang tadinya US$ 5 sen per kWh menjadi US$ 4,79 sen per kWh,” kata Arviyan.

Dengan penandatanganan ini, selanjutnya, kata Arviyan, konstruksi PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 sudah dapat dimulai pengerjaannya pada pertengahan 2018, dengan masa konstruksi 42 bulan untuk unit I dan 45 bulan untuk unit II.

Masa operasional atau commercial operation date (COD) PLTU terbesar di Indonesia itu akan dilakukan pada tahun 2021 untuk unit I dan tahun 2022 untuk unit II.

“Pembangunannya paling lambat pertengahan 2018 dan akan dilaksanakan COD di akhir 2021 untuk unit 1 dan unit 2 di 2022,” ujar Arviyan. (Jun)

Leave a Reply