PT BA Optimis Bisnis Batubara Membaik Tahun Ini

 

“Kebutuhan belanja modal perseroan tahun ini mencapai Rp5 triliun. Rp2,5 triliun untuk biaya operasional sisanya untuk investasi pengembangan,” ujar Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Joko Pramono kepada KabarSerasan.com, Senin (2/02/2105).

Menurut Joko, sebelumnya belanja modal tahun ini seluruhnya akan berasal dari kas perseroan. Namun dalam perjalanannya, banyak proyek perseroan akan
menggunakan project financing. “Jadi lebih kurang 30 persen dari kas, sedangkan 70 persen dari pinjaman bank,”ujarnya.

Dia mengungkapkan belanja modal tahun ini naik hingga empat kali lipat dibanding realisasi tahun lalu. Kenaikan belanja modal tersebut dikarenakan beberapa proyek pengembangan telah ditandatangani. “Misalnya, proyek PLTU Sumsel 8. Proyek itu total nilai investasinya sebesar Rp16 triliun. Perseroan sendiri memiliki bagian sebanyak 45 persen. Nah, sekarang sedang proses untuk financial close atau pendanaan,” paparnya.

Seperti diketahui, Bukit Asam memang tengah melakukan diversifikasi bisnis, dengan membidik bisnis pembangkit listrik. Perseroan sendiri telah menjalankan PLTU 3×10 megawatt di Sulsel, PLTU 2×8 megawatt di Lampung dan pembangkit listrik biomassa 1,5 megawatt di Tanjung Enim. Pada tahun ini,
PLTU 2×110 MW di Banjarsari akan beroperasi Februari mendatang.

Selain di dalam negeri, perseroan juga berencana menembus pasar luar negeri. Bukit Asam berniat membangun pembangkit listrik di Myanmar dan Vietnam. Disisi lain, Joko menilai bisnis batu bara tahun ini akan membaik. Indikasinya terlihat dari harga batu bara yang mulai merangkak naik, meskipun trennya lebih terlihat stagnan.

“Ada indikasi harga batu bara tidak akan turun lagi, mulai stagnan.  Dalam pantauan kami, harga mulai merangkak naik dari sebelumnya US$62 per ton, naik jadi US$63 per ton, lalu US $63,5 per ton, dan terakhir menjadi US$63,7 per ton,” ujarnya.

Untuk menaikkan laba, perseroan juga melakukan efisiensi dalam meningkatkan produktivitas. Antara lain  menggunakan alat-alat yang minim penggunaan BBM serta mendorong penggunaan alat-alat yang menggunakan listrik.

Sekadar informasi, realisasi pendapatan perseroaan sepanjang tahun lalu mencapai lebih dari Rp 13 triliun. Angka ini naik 16% dari tahun sebelumnya Rp 11,20 triliun. (Amr)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here