Murid SLB Produksi Tanjak Berkualitas Tinggi

Seorang Murid SLB menunjukkan Tanjak hasil karyanya. Foto: Kabarserasan.com/Azhari

Kualatungkal, Kabarserasan.com – Meski punya kekurangan fisik, tidak membuat murid Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjungjabung Barat, Jambi tidak kreatif dalam berkarya.

Hebatnya lagi, para siswa mampu itu membuat kerajinan tangan yang layak jual dan bernilai ekonomis tinggi.

Hasil kerajinan itu ialah Tanjak, yakni sejenis ikat kepala tradisional Melayu yang dipakai oleh golongan lelaki dengan khas lipatan.

Tanjak sendiri dibuat dari lipatan kain batik maupun kain songket yang dilengkapi dengan alat pengeras dan perekat.

Kepala Sekolah SLB Negeri Kuala Tungkal, Carry Agoeng mengatakan, pembuatan kerajinan Tanjak ini telah dilakukan sejak Juli 2016 lalu.

Kerajinan Tanjak ini pertama kali digagas oleh salah seorang guru pembimbing SLB Negeri Kuala Tungkal bernama Muhammad Irfan.

“Kerajinan pembuatan Tanjak ini pencetusnya guru pembimbing disini, terus kita lakukan coba mencoba dan akhirnya anak-anak SLB disini bisa membuatnya,” kata Carry.

Berkat ketekunannya, kerajinan Tanjak murid SLB ini sudah banyak dilirik oleh kalangan masyarakat umum, pejabat pemerintahan, anggota DPRD, hingga ke kalangan partai politik.

Untuk pesanannya sudah lumayan banyak. Harganya pun bervariasi, tergantung bahan serta tidak terlalu mahal.

“Harga bervariasi, tergantung bahan. Ada yang Rp. 60 ribu, Rp. 65 ribu dan Rp. 70 ribu. Yang paling mahal kami jual Rp. 75 ribu. Kita gak jual mahal mahal sih,” ujar Carry.

Semenjak publik mengetahui produksi Tanjak, sudah banyak yang order, mulai dari 20 buah, 30 buah, bahkan ada yang mesan 50 buah tanjak.

Dalam memproduksi Tanjak ini, pihaknya masih belum bisa memproduksi secara massal, saat ini dalam sehari baru bisa menghasilkan 30 Tanjak.

Diakui Carry, penjualan Tanjak hasil kerajinan siswa SLB Negeri Kualatungkal ini meledak semenjak Gubernur Jambi Zumi Zola sering memakainya setiap kali ada kegiatan.

“Mungkin pas lagi booming Tanjak di Jambi. Pas bapak Gubernur juga pakai, baru banyak pesanan pada kita,” ungkapnya.

Dengan semakin dikenalnya Tanjak saat ini, bukan hanya dari wilayah Provinsi Jambi, pesanan berdatangan, tapi juga banyak digandrungi oleh masyarakat dari luar Provinsi Jambi, seperti dari Yogyakarta dan Bandung.

“Omset sekarang tergantung pesanan. Pesanannya sudah sampai ke Yogyakarta dan Bandung. Alhamdulilah sudah dikenal secara nasional, serta pesanan dari sejumlah daerah lain di Jambi. Peralatan yang kami miliki bisa dibilang cukup, tapi kalau ada pesanan partai besar kita kuwalahan,” tutur Carey.

Pencetus kerajinan Tanjak SLB Negeri Kualatungkal Muhammad Irfan mengungkapkan, selain bernilai ekonomis, Tanjak buatan siswa SLB ini juga mengandung filosofi Islami yang cukup dalam.

“Tanjak kita ada dua nama, yaitu Tanjak Elang Menyongsong Angin sama Elang Terbang. Kalau Elang Terbang itu terdiri dari empat tingkat lima lipatan. Terus yang lima lipatan itu menunjukan rukun Islam, jadi dalam Tanjak ini filosofinya Islam sekali,” jelasnya.

“Kalau Elang Menyongsong angin itu lebih mencerminkan keberanian dan keteguhan hati dalam berjuang. Intinya semangat berjuang. Ibaratnya kalau diperahu kalau kita diam kita bisa hanyut, tapi kalau kita melawan arus kita bisa sampai,” tambah pria yang akrab disapa Gilang ini.

Untuk memproduksi Tanjak ini, pihaknya tidak sembarangan, tapi terlebih dahulu melakukan riset ke kelembagaan adat dan tua-tua tengganai di Kabupaten Tanjungjabung Barat.

“Jadi yang kita produksi adalah memang benar-benar tradisi bukan kreasi,” tandas Gilang seraya berharap Tanjak lebih dikenal lagi ke mancanegara sesuai motto dikalangan pemuda Jambi “kalau belum punya Tanjak, bukan orang Jambi”.

Penulis: Azhari
Editor: Amr

Leave a Reply