Tangkal Informasi Sesat, Netizen Bentuk “Masyarakat Anti Hoax”

Deklarasi Masyarakat Indonesia Anti Hoax, di Jakarta, Minggu (08/01/2016)/ Foto: kompas.com

Jakarta, Kabarserasan.com—memanfaatkan momentum Car Free Day di Jalan Thamrin, Jakarta, sejumlah pegiat media sosial—atau yang kerap disebut netizen, Minggu (08/01/2016) pagi, mendeklarasikan terbentuknya  organisasi bernama Masyarakat Indonesia Anti “Hoax”.

Untuk menambah kekuatan organisasi ini, para netizen mengandeng sejumlah tokoh masyarakat dan lintas agama, diantaranya Intelektual Muslim Profesor Azyumardi Azra dan Profesor Komarudin Hidayat, Sekjen Keuskupan Agung Jakarta, Rm V Adi Prasodjo, sineas Nia Dinata, sastrawan Goenawan Mohamad, pegiat sosial Anita Wahid, dan tokoh anti-korupsi Erry Riyana Hardjapamekas.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara yang ikut hadir dalam kegiatan ini, menyatakan santt mendukung langkah masyarakat ini seraya mengajak seluruh warga masyarakat di tanah air, mendukung kegiatan ini. Diakui Rudiantara, aksi masyarakat seperti ini sangat membantu pemerintah, memerangi berita palsu dan menyesatkan yang saat ini berseliweran di masyarakat.

“Harapannya, banyak yang akan tergerak bergabung dalam inisiatif memerangi hoax di masa depan, bisa melalui media, ormas, dan jalur-jalur lain,” ujar Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax, Septiaji Eko Nugroho, sebagaimana dikutip dari kompas.com.

Septiaji mengatakan, inisiatif Masyarakat Indonesia Anti Hoax awalnya bermula dari perlawanan netizen Tanah Air yang berupaya memerangi hoax secara sporadis dengan membentuk grup-grup anti-hoax di media sosial.

Beberapa grup yang lahir karena gerah dengan maraknya hoax, antara lain Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci. Empat grup ini semuanya terdapat di facebook

Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax tersebar dan aktif di berbagai daerah lain di Indonesia. Selain Jakarta, deklarasi Masyarakat Anti Hoax dan sosialisasi turut digelar serentak pada hari yang sama di Surabaya, Semarang, Solo, Wonosobo, dan Bandung.

Lebih lanjut, Septiaji menerangkan bahwa komunitas Masyarakat Indonesia Anti-Hoax di masing-masing daerah bergerak secara independen sesuai dengan pendekatan yang diperlukan.

“Jadi, misalnya di Yogyakarta pendekatannya lebih mengarah ke budaya, Surabaya lebih ke akademis. Semuanya beroperasi independen, kami hanya koordinasi,” jelasnya.

Bagaimana untuk ikut serta memerangi hoax? Septiaji menganjurkan agar bergabung dengan sejumlah grup anti-hoax yang tersebar di media sosial seperti twitter atau Facebook. Selain itu, bisa juga melaporkan hoax lewat situs Turn Back Hoax di alamatdata.turnbackhoax.id.

“Jumlah aduan yang masuk ke Turnbackhoax.id sudah mencapai ratusan ribu dalam sebulan terakhir. Ini menandakan gerakan anti-hoax sudah mulai berdampak ke masyarakat,” kata Septiaji.

Situs ini merupakan salah satu inisiatif Masyarakat Indonesia Anti Hoax untuk mempermudah anggota masyarakat yang ingin mengidentifikasi hoax, sekaligus berfungsi sebagai database aneka hoax yang beredar di Indonesia.

Leave a Reply