UMKM Muara Enim, Potensial Untuk Terus Berkembang

Foto: Dok Dinas Koperasi dan UKM Kab.Muara Enim

Arah pembangunan nasional, yang memberi perhatian besar bagi tumbuh dan perkembangnya Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), menjadi angin segar bagi pelaku UMKM di Kabupaten Muara Enim, sebagai salah satu daerah dengan potensi besar di Provinsi Sumatera Selatan.

Pemerintah Kabupaten Muara Enim pun menindaklanjuti kebijakan pemerintah pusat itu dengan membuat sejumlah program dan kebijakan, yang bertujuan mendorong terciptanya iklim kondusif bagi dunia usaha kecil dan menengah ini.

Pelayanan birokrasi berbelit dipangkas, proses perizinan dipermudah, demikian juga menyangkut  permodalan dijembatani untuk bisa mendapatkan bantuan—termasuk dari pihak perbankan.  Dalam hal perizinan misalnya, jika dulu harus melalui instansi tertentu, sekarang pelaku usaha yang hendak mengurus izin cukup datang ke kantor kecamatan.

Karena pemerintah daerah ini menyadari, UMKM menjadi elemen penting, tidak saja  bagi penyerapan tenaga kerja tapi juga peningkatan kesejahteraan masyarakat. UMKM telah terbukti sebagai pilar perekonomian yang tangguh, di tengah iklim persaingan global yang makin ketat.

Foto: Dok. Dinas Koperasi dan UKM Kab. Muara Enim
Foto: Dok. Dinas Koperasi dan UKM Kab. Muara Enim

Data dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Muara Enim, saat ini ada 4.093 UMKM, yang tersebar di semua kecamatan,  terbanyak di Kecamatan Kota Muara Enim, Lawang Kidul dan Ujan Mas. Menurut Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Muara Enim, Drs Darmawan MM, jenis UMKM yang paling banyak diminati adalah di bidang jasa perdagangan, pertanian dan industri kecil.

Melihat besarnya potensi, Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Muara Enim  mengambil langkah, dengan memetakan potensi tersebut di setiap kecamatan. Dari situ, kemudian dilakukan kajian mendalam, untuk dijadikan UMKM unggulan.

Untuk tiga kecamatan di Semende dan Tanjung Agung misalnya, potensi andalannya kopi dan sayuran. Kecamatan Kota Muara Enim, Rambang Lubai dan Rambang Dangku komoditas andalannya karet dan kelapa sawit. Kecamatan Gunung Megang dan Sungai Rotan, dengan gula aren.

Foto: Kabarserasan.com
Foto: Kabarserasan.com

“Kami berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan melakukan kajian dan pendalaman itu. Kecamatan mana, unggulannya apa. Setelah itu kita buat program pembinaan secara khusus, jadi lebih fokus dan terarah pengembangannya. Jadi kita lakukan secara terukur, termasuk melakukan evaluasi secara berkala” ujar Darmawan menjelaskan.

Termasuk dalam program pembinaan itu, lanjut Darmawan, pihaknya juga memberikan pelatihan dan kesempatan magang bagi pelaku usaha yang baru memulai, ke sentra UMKM yang telah maju dan berpengalaman.

“Tidak hanya itu, Dinkop UMKM Kabupaten Muara Enim juga memberikan bantuan stimulan, seperti sarana dan peralatan, bimbingan manajemen pengelolaan, sampai promosi dan pemasaran produk melalui pameran-pameran” tambah Darmawan.

Darmawan berharap, warga masyarakat juga berkreasi dan terus meningkatkan keterampilan. Di daerah dengan potensi karet dan sawit misalnya, para petani setempat tidak hanya menjual tandan buah segar (TBS) tapi ada usaha yang terintegrasi –misalnya dengan berternak sapi, atau membuka peluang lahirnya industri UMKM dalam bentuk produksi minyak goreng. Sehingga tidak hanya meningkatkan penghasilan tapi juga menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.

Menurut Darmawan, potensi UMKM Kabupaten Muara Enim sangat besar. Karena itu saat pemerintah pusat menetapkan sektor industri sebagai salah satu program unggulan, penopang perekonomian nasional, Pemkab Muara Enim melalui Dinkop dan UMKM langsung menyambut iklim kondusif tersebut.  Selain berbagai kebijakan di atas tadi, pihaknya juga mendorong badan usaha (BUMN, BUMS hingga BUMD) untuk menjadi semacam bapak angkat bagi UMKM lokal ini.

Begitu pula dalam memaksimalkan potensi di subsektor perkebunan, ambil contoh kopi sebagai potensi andalan di Semende dan Tanjung Agung. Pemkab Muara Enim telah mendaftarkan sertifikasi hak paten. Dan untuk meningkatkan produksi dan mutu, telah pula digandeng pihak ketiga—Yayasan

Al Azhar, dari teknik pemetikan, penjemuran. Pengolahan sampai pengepakan (packeging). Semua dimaksudkan agar potensi ii berkembang dan petani kopi bisa merasakan manfaatnya.

Saat ini pun, melalui beberapa kelompok tani di Semendo sedang dikembangkan penanaman jamur tiram, karena pasarnya sedang baik, berkisar Rp 12-15 ribu per kg di tangan pengepul, namun di pasar harganya bisa mencapai Rp 20 ribu per kg. Permintaan pasar juga masih sangat tinggi sedangkan produksi sekarang ini belum bisa memenuhi permintaan itu.

Jamur tiram ini prospektif untuk dkembangkan.  Dalam satu kelompok pembudi daya, bisa menghasilkan 100 kg sekali panen. Selama satu periode tanam, jamur tiram dapat dipanen  4-8 kali tergantung kondisi , dan jamur ini dapat dipanen di sembarang waktu, baik pagi, siang maupun petang. Jamur tiram yang layak panen adalah yang memiliki pertumbuhan tubuh yang sudah optimal

Hal lain yang kini jadi perhatian Dinkop dan UMKM Kabupaten Muara Enim adalah aspek legalitas produsen,  dalam bentuk perizinan. Ini dianggap sangat penting bagi kelangsungan UMKM karena dengan legalitas itu, bukan sekedar membantu pemerintah dalam hal mengontrol mutu tapi juga membantu  pelaku usahanya dalam hal pemasaran produk.  Distribusi pemasaran ke toko swalayan misalnya, akan jadi mudah jika aspek legalitas itu sudah dimiliki. (Amri)

Leave a Reply