Menuju Daerah Industri, Muara Enim Siapkan RPIK

Foto: Dok. Bappeda Muara Enim

Dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2025, Pemerintah Pusat telah menetapkan 22 Wilayah Pusat. Pertumbuhan Industri (WPPI) yang disusun dengan mempertimbangkan beberapa kriteria, meliputi: potensi sumber daya alam (agro, mineral, migas); ketersediaan infrastruktur transportasi; kebijakan affirmatif untuk pengembangan industri ke luar Pulau Jawa; penguatan dan pendalaman rantai nilai; kualitas dan kuantitas SDM; memiliki potensi energi berbasis sumber daya alam (batubara, panas bumi, air); memiliki potensi sumber daya air industri; memiliki potensi dalam perwujudan industri hijau; dan kesiapan jaringan pemanfaatan teknologi dan inovasi.

Di Sumatera Selatan, dua daerah yang ditetapkan menjadi WPPI adalah Kabupaten Muara Enim dan Banyuasin.. Diharapkan dua daerah WPPI ini akan menjadi penggerak utama  ekonomi, tidak hanya di daerah tersebut namun juga terhadap wilayah sekitarnya (Sumsel secara umum).

Terkait dengan program pengembangan WPPI tersebut, pemerintah juga telah menyusun beberapa program dan rencana aksi untuk secara sukses mengembangkan WPPI yang telah ditetapkan. Secara lebih khusus terkait langkah dan kebijakan mengenai peningkatan kualitas SDM dan mutu produk, antara lain:

Survey dan pemetaan potensi pengembangan sumber daya industri dalam WPPI. Sumber daya industri terdiri dari SDA, SDM, teknologi industri, kreativitas dan inovasi, serta pembiayaan. Dalam hal ini, langkah yang akan dilakukan adalah melakukan pemetaan potensi ketersediaan SDM di Muara Enim sesuai dengan kebutuhan industri yang akan dikembangkan.

Koordinasi antar kementerian/lembaga terkait dalam penyusunan rencana penyediaan SDM dan teknologi untuk mendukung WPPI. Dalam rangka pengembangan WPPI, Kementerian Perindustrian akan melakukan koordinasi dan sinergi dengan Kementerian/Lembaga untuk penyediaan insentif non fiskal, terutama terkait dengan program penyediaan SDM industri dan pengembangan teknologi.

Pembangunan sarana dan prasarana pengembangan SDM. Setelah program pemetaan dan koordinasi dengan Kementerian/Lembaga dilaksanakan, maka akan dilakukan program pembangunan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan yang telah diidentifikasi.

Menindaklanjuti program pengembangan industri nasional itu, Kabupaten Muara Enim kini sedang merumuskan Rencana Pengembangan Industri Kabupaten (RPIK), dengan prioritas pengembangan industri dan energi., bertumpu pada potensi unggulan yang dimiliki daerah ini.

Menurut Kepala Bappeda Kabupaten Muara Enim Dr Ir Abdul Nadjib, kebijakan Pembangunan dan Pengembangan Industri dan Energi di Kabupaten Muara Enilm didasarkan pada beberapa faktor, antara lain Industri Lokal yang sudah berkembang di masyarakat, dan Potensi Alam/Geografis Kabupaten Muara Enim sendiri. Diharapkan perumusan RPIK itu rampung tahun 2016 ini.

DR Ir Abdul Nadjib
DR Ir Abdul Nadjib

Nadjib menjelaskan, ada beberapa potensi unggulan yang akan dikembangkan. Pertama, sektor Perkebunan, dengan komoditi unggulan yakni kopi, Karet dan Kelapa Sawit. Sentra tanaman kopi banyak terdapat di wilayah dataran tinggi Semendo, dengan luasan lahannya lebih dari 14 ribu hektare, dan di Kecamatan Tanjung Agung dengan luas lahan 6000-10.000 ha.

Kemudian Karet, sentra tanamannya tersebar di Kecamatan Kelekar dan Gunung Megang (luas lahan 5.000-10.000 ha), di Kecamatan Lembak, Ujan Mas, Tanjung Agung dan kecamantan Lubai (10.000-15.000 ha),. Serta di Kecamatan  Gelumbang dan Rambang Daku yang memilki  luas lahan sekitar 15.000-20.000 ha. Sedangkan Kelapa Sawit, saat ini sentra lahannya di Kecamatan Rambang Dangku, yang memiliki luas lahan 64.942 Ha.

Sektor kedua, yakni Peternakan dan Perikanan dengan komoditas unggulan yaitu ayam buras, kambing, ikan budidaya keramba, ikan budidaya kolam, sapi dan ayam broiler.

Sektor ketiga yang juga unggulan dan akan dikembangkan, yakni Tanaman Pangan dan Hortikultura, dengan komoditas unggulan padi (dengan luas lahan 36.312 ha, sentra terbesarnya terdapat di Kecamatan Tanjung Agung, Muara Belida, dan Sungai Rotan). Kemudian  jagung (luas lahan: 656 Ha di Kecamatan Kelekar dan Rambang Dangku) serta nanas (dengan luas areal 29 Ha yang berada di Kecamatan: Kelekar, Lembak, dan Gunung Megang).

Keempat, Sektor Pertambangan dan Energi. Untuk pertambangan unggulannya Batubara, Minyak Bumi dan Gas. Sedangkan energi, unggulan adalah PLTA, Panas Bumi, dan PLTU.

Kelima, Sektor Pariwisata. Di sektor iini kawasan wisata Air terjun Bedegung di Kecamatan Tannjung Agung menjadi andalan Kabupaten Muara Enim. Bahkan air terjun dengan ketinggian 99 meter ini menjadi ikon Kabupaten Muara Enim. Selain air terjun Bedegung, di daerah ini terdapat juga air terjun Curup Ayun, Lemutu, Napal Carik dan Selingsing, yang tak kalah indah dan punya prospek bagus untuk dikembangkan. Untuk wisata budaya, di Kabupaten Muara Enim juga terdapat  Megalitik yang terletak di Semende Darat Tengah.

Lalu juga akan dikembangkan, Sektor Industri. Melimpahnya hasil perkebunan dan pertanian di Kabupaten Muara Enim membuka peluang pengembangan industri, misalnya Industri pengolahan karet,  pengolahan sawit,  pengolahan kopi dan Industri pengolahan padi. Semua potensi unggulan ini, telah dipetakan, berdasarkan geografis wilayah.
Insert: Peta Potensi

Nadjib mengakui dalam rencana pengembangan industri energi di Kabupaten Muara Enim, terdapat beberapa kendala yang harus dicari jalan keluarnya. Pertama soal penyediaan lahan untuk pembangunan dan pengembangan industri.

“Solusinya perlu dilakukan sosialisasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya pembangunan industri di kecamatan dan desa yang bersangkutan. Untuk itu perlu dukungan masyarakat dalam hal penyediaan lahan,” Ujar Nadjib kepada Kabarserasan yang menemuinya beberapa waktu lalu. .

Persoalan kedua, terkait kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang masih belum memadai dan perlu ditingkatkan lagi, baik di level petani, masyarakat maupun pelaku usaha kecil dan menengah. Solusinya, perlu dilakukan sosialisasi, pendampingan dan pelatihan-pelatihan/Bimbingan Teknis.

Kendala lain, faktor cuaca ekstri yang perlu diwaspadai misalnya kemarau panjang yang berpotensi menurunkan produktifitas pertanian dan perkebunan; Solusinya perlu adanya antisipasi persiapan dalam menghadapi kemarau panjang.  Dan terakhir, keterbatasan keuangan Pemerintah Daerah, yang selama ini disiasati Pemerintah Kabupaten Muara Enim dengan memprioritaskan pembangunan industri unggulan saja.

“Kita juga memberi perhatian untuk tumbuh dan berkembangnya industri kreatif kecil dan menengah, misalnya melakukan pelatihan dan pendampingan, Bahkan kita fasilitasi kegiatan pemasaran hasil produksi mereka melalui penyediaan tempat transaksi setiap minggu (setiap hari Jumat di Lapangan Merdeka),” Nadjib menambahkan.

Segala upaya dan program yang dilakukan Pemkab Muara Enim tak lain dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat. Jika perekonomian masyarakat terus meningkat, maka visa misi Kabupaten Muara Enim SMAS (Sehat Mandiri Agamis dan Sejahtera) diharapkan bias terwaujud, (Junel/Amri)

Leave a Reply