Stroberi Semende Menunggu Manisnya Pasar

Stroberi Segamit Semende, potensial untuk dikembangkan

Muara Enim, Kabarserasan.com – Sejak dahulu saat orang mendengar nama Semendo atau Semende,orang akan langsung teringat akan kopi. Tapi kini, tak hanya kopi yang menjadi ikon hasil perkebunan di daerah yang punya sebutan Bumi Tunggu Tubang ini, stroberi mulai juga dikenal.

Camat Semende Darat Ulu, M.Tasman mengatkan,  budidaya stroberi bisa menjadi solusi peningkatan penghasilan bagi para petani di kawasan Semende. Sayangnya, kata dia, yang meminati usaha tersebut masih sedikit.

“Boleh dikatakan belum menyebar, padahal secara potensi sangat menjanjikan,”jelasnya.

Potensi alam dan ketersediaan alam menurut Tasman sangat menunjang. Tinggal lagi keseriusan dari para petani tersebut.Melihat yang sudah ada, budidaya stroberi memang membutuhkan ketelatenan dan keseriusan.

“Memang harus total, dan tidak bisa jika hanya dijadikan sambilan,”ujar pria asli Semende tersebut.

Salah satu petani yang mencoba peruntungan melakukan budidaya stoberi ini adalah Alamsih. Pria 53 tahun yang dulunya dikenal sebagai pengepul kopi di Desa Segamit, kini beralih menekuni budidaya stoberi.

Warga Desa Segamit ini mengaku, budidaya stroberi sangat menjanjikan. Apalagi didukung dengan potensi alam yang sangat meungkinkan seperti di kawasan Danau Ringkih.

“Untuk stroberi memang baru beberapa tahun kebelakang, dan sekarang pun masih dengan hitungan jari petani yang membudidayakan tanaman stroberi ini,”jelasnya.

Padahal, lanjut dia secara ekonomis budidaya stroberi sangatlah menjanjikan. Tiap minggu dirinya mendapatkan order pesanan dengan kisaran 10-15 kilogram.Belum lagi pengunjung yang datang langsung ke kebun stoberi miliknya. Untuk harga, saat ini masih di kisaran Rp 35.000-Rp 40.000 per kilogram.

“Memang belum dalam jumlah banyak,tapi kalau dihitung-hitung cukup lumayan dan bisa menjadi sumber penghasilan,”ujarnya.

Alamsih menuturkan, Budidaya stroberi memang membutuhkan ketelatenan. Tanaman tersebut tidak dapat berkembang biak dengan baik jika bercampur dengan tanaman lain. Belum lagi media tanamnya yang harus dilapisi plastic mulsa. Tujuannya agar buah yang dihasilkan,tidak terkena tanah dan dalam kondisi bersih sehingga siap untuk dikonsumsi.

“Karena langsung dimakan, jadi buahnya diusahakan dalam kondisi bersih saat dipanen atau dipetik,”terangnya.

Saat ini menurut Alamsih, yang masih menjadi kendala dirinya dan petani lain yang melakukan budidaya stroberi adalah kendala pemasaran. Pola pemasaran menurutnya masih dari mulut ke mulut,meskipun pemesanan sudah ada. Hanya secara jumlah masih sangat sedikit.

“Kita masih ngirim di lokalan saja, seperti ke Pagar Alam, Baturaja dan sesekali ke Palembang, itupun kalau ada yang pesan. Permintaan rutin ada dari Tanjung Enim, tapi jumlahnya masih sedikit paling 10-15 kilogram per minggu,” ujarnya. (Isp/Amr)

Leave a Reply