KPK Endus Praktik Kongkalikong Dokter di Palembang

Yogyakarta, Kabarserasan.com—Ketua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan pihaknya kini sedang mengendus dugaan adanya praktik kongkalikong antara oknum dokter dan perusahaan farmasi di Palembang, Sumatera Selatan, bernilai hingga ratusan miliar rupiah.

Indikasi temuan itu diungkapkan Ketua Agus Rahardjo saat memberi sambutan pada pembukaan acara Anticorruption Summit 2016 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (25/10/2016).

Modusnya, dokter sengaja menaikkan harga obat yang diproduksi oleh perusahaan farmasi tersebut. Kasus ini diduga melibatkan banyak dokter.

Dari praktik kongkalikong tersebut, berdasarkan data Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), menurut Agus, perusahaan farmasi mengeluarkan uang untuk dokter hingga Rp600 miliar.

“Beberapa waktu yang lalu kita temukan ada pabrik farmasi di Palembang, dari laporan PPATK, ada Rp 600 miliar diberikan ke para dokter” kata Agus.

Agus menduga, praktik seperti itulah yang menyebabkan 40% biaya layanan kesehatan dibelanjakan untuk obat. Padahal, lanjutnya memberi perbandingan, di negara lain 15% saja yang dibelanjakan untuk obat.

Agus menegaskan, praktik semacam ini yang akan dihadapi negara ini. Semua pihak termasuk mahasiswa-mahasiswa yang saat ini masih mengenyam pendidikan, kata Agus, diharapkan berperan memperbaiki kondisi semacam ini.

“Perlu perbaikan dari kita semua dan perlu peran dari anak-anak kita,” tutur Agus.

Wapres JK: Pasien Seperti Apotek

Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang juga hadir dalam acara ini menyatakan, bahwa hal-hal semacam ini sudah berkali-kali disampaikannya kepada Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dan Wapres berharap lembaga profesi para dokter itu mengambil langkah mengatasi.

“Soal obat, sudah berkali-kali saya bilang di IDI. Orang diperiksa tidak sempurna, karena banyak antrean, hanya 5 menit. Diagnosanya jadi tidak bagus, jadi dikasih obat banyak, mudah-mudahan satu kena (manjur),” kata Wapres JK.

JK sependapat dengan Ketua KPK Agus, bahwa hal-hal semacam inilah yang membuat biaya konsultasi murah tapi biaya obat menjadi mahal. JK menggambarkan, pasien tak ubahnya seperti apotek karena begitu banyak mendapat obat. Dan dari situ, dokter jadi dapat bagian. (Junel)

Leave a Reply