Orang Tua Pelaku Bom Bunuh Diri di Gereja Medan Minta Maaf

Kedua orang tua IAH, Pelaku bom di gereja Medan

Medan, Kabarserasan.com. Orang tua Ivan Armadi Hasugian, pelaku bom bunuh diri yang gagal di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep Medan Sumatera Utara, Kamis (01/08/2016) siang menyampaikan permohonan maaf kepada warga Kota Medan, atas tindakan anaknya yang telah membuat resah masyarakat.

Makmur Hasugian dan Arista Beru Purba, kedua orangtua dari Ivan, menyampaikan permohonan maaf mereka itu dengan berlinang air mata dan menyatakan, peristiwa di hari Minggu (28/08/2016) pagi itu benar-benar di luar dugaan mereka.

“Kami dari keluarga tidak tahu masalah ini dan tidak ada berniat menimbulkan keguncangan antaragama. Dalam kesempatan ini, saya dan istri selaku orang tua Ivan meminta maaf sebesar-besarnya kepada warga Medan khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya,” kata Hasugian, di gedung Peradi Jl Sei Rokan, Medan Sunggal,.sebagaimana dikutip dari medan.tribunnews.com

Menurut Hasugian, tidak ada sedikitpun keluarganya ingin melukai hati umat kristiani khususnya umat katolik. Untuk itu, lanjut Hasugian, sekali lagi keluarga meminta maaf yang sedalam-dalamnya.

“Kepada Pastor Albert, saya juga memohon maaf atas tindakan anak saya. Saya juga memohon keuskupan di Medan memafkan kami,” katanya lagi.

Percobaan bom bunuh diri Ivan itu terjadi di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Medan, Minggu lalu, ketika jemaat katholik sedang melakukan kebaktian.

Kejadiannya bermula ketika Pastor Albret S Pandingan hendak menyampaikan khotbah di mimbar, tiba-tiba Ivan yang sejak awal kebaktian ada di antara para jemaat, berjalan ke arah sang pastor sambil menghunus pisau, dengan tas ransel di punggung.

Saat sang pastor melihat ada percikan api keluar dari dalam tas dan mulai membakar pelaku, ia buru-bru menjauhkan diri bersama jemaat yang panik. Tindakannya itu membuat Pastor Albert terluka kena pisau pelaku, tapi ia bisa dilarikan jemaatnya ke luar gereja.

Tak lama kemudian terdengar ledakan, dan pelaku tergeletak, beberapa jemaat yang marah sempat memukuli pelaku. Beruntung, bom rakitan yang dibawa pelaku memiliki daya ledak rendah sehingga hanya pelaku yang terkena.

Polisi yang datang tak lama berselang, langsung mengamankan pelaku yang masih berusia 18 tahun dan belum lama menamatkan pendidikannya di salah satu SLTA di Medan itu. Di dalam ransel pelaku ditemukan bom rakitan yang belum meledak, pisau, kampak, dan benda-benda tajam lainnya. (*)

Leave a Reply