Maaf

Tidak ada manusia yang selalu benar, pasti pernah melakukan kesalahan. Bahkan dalam sejarah Islam disebutkan, seluruh nabi—manusia pilihan tuhan, pernah melakukan kesalahan, dan karena kesalahan itu pula sang nabi kemudian bermohon ampun kepada tuhan, dan selanjutnya menjadi pelajaran bagi pengikut nabi itu itu untuk mencontohnya, jika melakukan kesalahan.

Di kalangan umat Islam, ada sebuah riwayat bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: “Setiap Bani Adam pernah bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat”. (HR.at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan ad-Darimi)

Ya, intinya, siapa pun kita pasti ada dan pernah melakukan kesalahan, kekhilafan, dan kealpaan. Karena itu pula hakekatnya manusia. Tinggal soal kualitas (kadar berat ringan) dan kuantitas (banyak sedikitnya). Jika kepada tuhan atas kesalahan kita mohon ampun, maka dalam hubungan sesame manusia kita dianjurkan untuk memohon maaf.

Memang,  dalam prakteknya meminta maaf dan memaafkan bukan perkara mudah dilakukan. Kada, ada banyak hal yang menjadi kendala—paling sering faktor emosional. Di pihak yang melakukan kesalahan, ada rasa malu, gengsi atau takut untuk meminta maaf.

Sementara di pihak yang menjadi “korban” ada rasa marah, kesal bahkan sakit hati. Tapi jika kita memahami bahwa meminta maaf dan memaafkan, lebih banyak manfaat dari pada mudhoratnya, maka sebaikinya faktor malu, gengsi, marah dan sakit hati tadi bisa dikesampingkan.

Kadang, karena proses waktu, kita sudah bisa meredam rasa malu, gengsi, marah dan sakit hati, tapi belum juga melakukan tindakan mulia itu. Yang bersalah belum meminta maaf, yang menjadi “korban” masih dalam posisi menunggu datangnya permintaan maaf. Faktornya, belum ada waktu yang tepat—atau istilah kerennya, belum ada momentum yang tepat.

Bicara momentum, kaum muslimin telah menemukan momentum itu, maka saying sekali jika tidak dimanfaatkan, yaitu saat menjelang Bulan Ramadhan yang telah berlalu. Karena di bulan yang dianggap suci itu, menjadi waktu tepat untuk mensucikan diri, salah satunya dengan saling memaafkan.

Jika momentum itu terlewatkan, masih ada momentum kedua, yakni saat Idul Fitri. Kesucian yang diperjuangkan selama Bulan Ramadhan, akan terasa sempurna jika dilengkapi dengan saling memaafkan.

Tapi terlepas dari momentum tadi, meminta maaf dan memberi maaf bisa dilakukan kapan saja. Sekali lagi, siapa pun kita pasti pernah, bahkan akan, melakukan kesalahan. Sebentar lagi bangsa ini akan menjalani hajat besar bernama Pilkada Serentak. Tak terhindarkan, akan terjadi pergesekan kepentingan baik di level atas (tokoh, calon kepala daerah) sampai level akar rumput (Tim Sukses, pendukung). Maka sebaiknya semua dihadapi dengan kepala dingin.

Perbedaan yang tak terhindarkan, harus disikapi sebagai warnanya hidup tak perlu dimaknai sebagai ajang pertentangan dan permusuhan. Kita harus menjadi pribadi yang berani untuk minta maaf jika melakukan kesalahan, dan memberi maaf jika ada yang mengakui kesalahan.

Masih ingatkah kita akan kisah Abu Bakar As-Shiddiq RA yang pada suatu hari bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya? Begitu berat kenyataan itu bagi beliau karena Misthah bin Atsatsah telah ikut menyebarkan berita bohong tentang putri beliau yaitu siti Aisyah.

Tetapi Allah yang maha Rahman melarang sikap Abu Bakar tersebut, sehingga turunlah ayat ke-22 dari surah An-Nur. “Janganlah orang-orang yang memiliki kelebihan di antara kamu, bersumpah tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabatnya yang miskin dan orang-orang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin Allah mengampunimu?. Allah maha pengampun lagi maha penyayang”

Minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin

Penulis: Firdaus Masrun

Baca juga Opini lain:

KTP Elektronik
Kebiri, Tepatkah ?
Testimoni Freddy
Awas Narkoba
Menteri Arcandra, Kegaduhan Baru
Warung Elektronik
Calon Tunggal
Puasa Bersihkan Hati
Pilkada Serentak
Zigzag
Hak Memilih
UU Desa
Perjalanan Dinas
DOB, Buah Simalakama

Leave a Reply