Akbid Muara Enim, Pabriknya Bidan Unggulan

Sedikit menoleh ke belakang, Akbid Pemkab Muara Enim ini awal berdirinya di tahun 1993 adalah Sekolah Perawat Kesehatan (SPK), ini terkait kebijakan Pemerintah yang mensyaratkan pendidikan tenaga kesehatan untuk pemula minimal adalah Diploma III. Baru di tahun 2001 SPK dikonversi menjadi Akbid, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Republik Indonesia Nomor: HK.0.0.06.1.1.0419 tanggal 22 Februari 2001.

“Semua itu karena perkembangan ilmu dan teknologi di bidang kesehatan serta meningkatnya kondidi sosial dan ekonomi masyarakat   yang semakin maju dan menginginkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas. Jadi Akbid terus berupaya mewujudkan keinginan masyarakat itu. Salah satunya menggunakan kurikulum terbaru” ujar Direktur Akbid Muara Enim, Rita Kamalia.

Rita mengakui, ada segelintir orang yang sempat nmeragukan legalitas Akbid Kabupaten Muara Enim. Padahal Akbid ini legal, berdasarkan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Hal itu sempat terjadi terkait adanya perubahan kebijakan pemerintah, yang semula berlandaskan UU Badan Hukum Nasional, tapi kemudian—berdasarkan keputusan Mahkamah Konstitusi 31 Maret 2010 undang-undang itu dibatalkan, dengan alasan tidak seragamnya sistem penyelenggaraan pendidikan.

Saat ini akreditas Akbid Muara Enim berstatus Akreditas “A” dengan nilai 87 dan masih berlaku hingga saat ini. Penandatanganan ijasah oleh Direktur Akbid juga sah. “Jadi dengan penjelasan ini diharapkan masyarakat tidak lagi bingung atau ragu mengenai legalitas ijasah yang dikeluarkan  Akbid Pemkab Muara Enim” jelas Rita.

Jika menghitung secara angkatan pertama kelulusan Tahun 2003, sampai kini jumlah kelulusan sebanyak 1.257 orang, berasal dari berbagai daerah termasuk Bengkulu, Lahat, Prabumulih hingga Palembang. Dan berdasarkan data, mereka kini tersebar mengabdi sebagai tenaga medis di sejumlah Puskesmas, rumah sakit (milik pemerintah dan swasta), klinik dan bidan praktek mandiri.

Sebagai perguruan tinggi favorit, Akbid tentu menetapkan standar tersendiri dalam penerimaan mahasiswa, terutama untuk  mata pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Biologi, Fisika dan Kimia. Selain itu ada juga proses Penelusuran Minat dan Prestasi (PMDP), untuk bisa masuk tanpa tes, dengan nilai smester 1 sampai 5 minimal 7,5. Rata-rata raport seluruh pelajaran 8,0.

“Karena tekad kami ke depan semua lulusan Akbid Muara Enim ini memiliki jiwa entrepreneur yaitu ulet, tangguh, gigih, jujur dan tidak cepat mengeluh. Sesuai dengan Motto Akbid Pemerintah Kabupaten  Muara Enim yaitu  “Siap Menjadi Manajer Diklinik Sendiri”. Karena itu ke depan lulusan kami siap bersaing menghadapi persaingan global; Asean Free Trade Agreement (AFTA)” tambah Rita optimis.

Kini Akbid Muara Enim telah berkembang pesat, bahkan memiliki mata kuliah unggulan, di antaranya program pemanfaatan obat-obatan herbal serta perawatan tradisional dan khusus bagi ibu-ibu hamil, masa nifas, menyusui dan bagi balita. Saat ini akbid Pemkab Muara Enim juga telah memiliki laboraturium herbal sendiri dengan didukung peralatan yang memadai.

Selain program diatas mahasiswa akbid Pemkab Muara Enim juga diberikan keterampilan berbahasa Inggris dan komputer, sehingga ke depannya diharapkan pada alumni Akbid Pemkab Muara Enim betul-betul dapat bersaing dan memiliki keunggulan tersendiri.

Akbid juga telah memiliki sejumlah fasilitas, yakni laboratorium keterampilan dasar, laboratorium kebidanan, laboratorium computer, laboratorium Bahasa, Mini Hospital, Ruang Senam hamil dan senam nifas, SPA Bayi, Ratus V (untuk perawatan tradaisional), lalu Wifi Gratis, E-Learning dengan jaringan Astinet, bahkan memiliki mobil antar jemput mahasiswa saat praktik lapangan

“Yang kini sedang diperjuangkan, Akbid ingin ada gedung serbaguna yang bisa menampung 1000–1500 orang untuk kegiatan kuliah umum, yudisium, wisuda dan acara – acara lainnya sehingga tidak menyewa gedung lain” kata Rita lagi

Rita berharap, lulusan Akbid Pemkab Muara Enim ini bisa menjawab persoalan kurangnya tenaga bidan di Kabupaten Muara Enim, terutama di dea-desa, yang selama ini dihadapi. Karena sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi, ratio antara bidan dan penduduk harus seimbang

Untuk meningkatkan mutu pendidikan dan lulusan, Akbid Pemkab Muara Enim kadang mengundang dosen luar yang didatangkan dari Propinsi atau  kabupaten lain. Selain itu, kepada setiap mahasiswa yang sudah lulus, sebelum diwisuda yang tiap calon wisudawan harus menjalani pembekalan berupa pelatihan Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan Obstetrik dan Neonatus (PPGDON), latihan Psikotest, latihan TOEFL sampai keluar sertifikat,  try out Uji Kompetensi, sehingga saat mereka hendak mengabdi ke masyarakat, betul-betul sudah siap. (Amri)

Baca Juga:
Motor Raib di Pasar Malam
Riak Mewujudkan Kawasan Impian
Desa Model, Program Terobosan TP PKK Kabupaten Muara Enim
PDAM Lematang Enim Terus Tingkatkan Pelayanan
Bujang Gadis Serasan; Brain, Beauty, Behavior
Terpilih Kembali Pimpin PERBASI, Faizal Janji Kembangkan Basket

 

 

 

 

Leave a Reply