Kisruh Ojek Daring, Sopir Angkot Ditikam di Jalan

Keributan yang terjadi antara pengojek daring dan pengemudi angkutan konvensional, Jumat (27/10/2017)/ Foto: ano

Bandarlampung, Kabarserasan.com—Kisruh pengemudi angkutan berbasis daring dan pengemudi angkutan konvensional di kota Bandar Lampung, agaknya belum mereda, meski dalam keributan kedua pihak sebelumnya, sudah dilakukan perdamaian oleh kepolisian setempat.

Jumat (27/10/2017) siang, pertikaian kedua pihak kembali terjadi. Seorang sopir angkot, dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi luka kritis, setelah ditikam salah seorang pengemudi ojek daring, di Jalan Pulau Sebesi Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung.

Menurut beberapa warga sekitar kejadian, sebelum penikaman itu, sempat terjadi keributan antara beberapa pengojek daring dan ojek pangkapalan. Saat keributan itu terjadi, sopir angkot bernama Aldia alias Ucok, mendekat dan kemudian terlibat dalam perang mulut yang terjadi. Tiba-tiba salah seorang pengojek daring mencabut sebilai golok dan menikam Ucok.

Oleh beberapa temannya sesame pengemudi angkutan konvensional, Ucok langsung dilarikan ke Rumah Sakit Immanuel Bandar lampung, dengan kondisi luka kritis di dadanya. Sedangkan pelaku penikaman, langsung kabur dengan kendaraan motornya.

“Saat itu terjadi keributan, dan si Ucok ini maksudnya mau melerai keributan itu. Tiba-tiba dia jatuh dengan berlumur darah di perutnyanya. Rupanya ia ditikam, dua kali lagi,” kata Feri, salah seorang sopir angkot di tempat kejadian.

Buntut dari kejadian itu, sejumlah sopir angkot dan pengojek pangkalan, langsung beramai-ramai mendatangi Mapolresta Bandar lampung, minta polisi menangkap pelaku penikaman itu. Sebagian lain rekan mereka melakukan sweeping ke sejumlah tempat, mencari keberadaan pelaku tersebut. Tindakan yang sama, juga dilakukan saat seorang pengojek daring babak belur dipukuli sejumlah sopir angkot.                                        Baca Beritanya: Seorang Pengojek Daring Dipukuli di Bandar Lampung

Gesekan di lapangan antara kedua pihak sudah beberapa kali terjadi. Yang bersifat massif saja, sedikitnya sudah tiga kali terjadi dalam dua bulan terakhir. Hal ini dipicu karena belum adanya sikap tegas dan aturan jelas, menyangkut keberadaab pengemudi angkutan brbasis aplikasi daring ini, yang oleh pengemudia angkutan konvensional dirasa merugikan penghasilan mereka. (ano)

Leave a Reply